“Terimakasih jika niat kalian memang untuk membantuku, namun jika kalian ada maksud lain dari
menolongku maka ingat baik baik, tulang kaki kalian akan saya patahkan satu persatu dan
membiarkan kalian di serang oleh para Shifter itu tanpa bisa memberi sedikit perlawanan.
“Baiklah Sergei, tolong tenangkan dirimu kami tidak akan melakukan sesuatu padamu, lagian pula
badanmu saja sudah terlihat seperti monster, aku aja gamau ganggu ganggu kamu” aku membalas
Sergei dengan upaya menurunkan suasana kembali.
“Sergei…. Apakah kamu punya kenalan yang mungkin ahli dalam astrologi atau bidang bidang yang
bersangkut paut dengan elemen elemen di bumi ini?”
Tanyaku kepada Sergei, Sergei menjawab
“Ya.. dia sekarang berada di Jerman. “ ucap Sergei
“Baiklah mari kita ke Jerman dengan secepat mungkin” ucapku kepada Sergei dan dia mengangguk
dengan senang hati.
Kami bergegas menempati tempat masing masing, aku sebagai driver RV, Sergei sebagai penembak di
atas RV dan Yelena sebagai nanvigator. Perkiraan untuk sampai ke Jerman adalah 2 hari, namun
karena gerbang polandia tidak bisa dilewati oleh mobil, maka waktu perkiraan menjadi 3,5 hari.
Budapest, Bulgaria, 10 November 2056
Setelah berada dalam perjalanan selama kurang lebih 3 hari, kami pun tiba tiba mendapatkan sinyal
permintaan tolong lagi dari arah Yunani, melihat keberadaan kami sangat dekat dengan hungaria
kami pun berinisiatif kesana untuk menolong siaapa pun yang mengirim sinyal tersebut.
Aku, Yelena, dan Sergei melintasi Budapest yang hancur, sebuah kota yang sekarang hanyalah
bayangan dari kejayaannya yang dulu. Kekacauan akibat invasi Shifter telah merusak segalanya. Aku
bisa melihat puing-puing bangunan yang terlantar, kendaraan yang terbakar, dan jalanan yang retak
dan berlubang.
Kota yang dulu dipenuhi dengan kehidupan, kini hanya sunyi dan terlantar. Puing-puing yang tinggi
menjulang di sekitar kami, menciptakan lanskap yang penuh dengan kehancuran. Bau asap dan debu
masih terasa di udara, mengingatkan akan pertempuran yang mengerikan yang pernah terjadi di sini.
Kami melaju perlahan dengan mobil, harus berhati-hati karena jalan-jalan penuh dengan rintangan.
Senjata-senjata yang terlupakan terbaring di jalanan, mengingatkan kami akan bahaya yang pernah
mengintai di sini. Aku melihat dinding-dinding bangunan yang telah roboh, hanyalah sisa-sisa
kehancuran yang menyisakan pemandangan yang tragis.
Langit mulai menggelap, dan bayangan reruntuhan menjadi semakin menyeramkan. Cahaya matahari
terbenam menciptakan siluet-siluet mengerikan dari puing-puing yang mengelilingi kami. Aku merasa
tegang, karena aku tahu bahwa keheningan yang menyelimuti kota ini bisa menjadi tipuan. Bahaya
bisa bersembunyi di mana saja, dan kami harus tetap waspada.
Aku meraba senjata yang ada di pangkuanku, siap untuk bertindak jika ada ancaman yang muncul.
Budapest yang pernah indah kini menjadi kota yang hancur, tetapi kami harus melewati kekacauan ini