XII IPA
M. Fachri Hudzaifah
Distorted
Prologue
Hari itu, seperti biasa, aku terjaga dengan mata yang masih terasa berat. Cahaya matahari
menerangi ruanganku, memberikan harapan baru untuk menjalani rutinitas. Aku bersiap seperti
biasa: mandi, sarapan, dan kemudian berangkat ke kantor. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi
ketika aku keluar. Jalanan yang biasanya ramai dengan kendaraan dan orang-orang yang bergegas
tiba-tiba terlihat sepi. Udara terasa tegang, seperti ada keheningan yang tidak wajar. Aku merasa
sesuatu ya
Saat aku melangkah lebih jauh, aku mendengar suara gemuruh yang mengerikan. Bangunan-
bangunan bergoyang, debu dan asap mulai mengisi langit. Orang-orang berteriak dan berlarian tanpa
arah. Ada kebingungan dan ketakutan yang melanda. Aku mencoba memahami apa yang terjadi,
tetapi semuanya begitu kacau. Tiba-tiba, sekelilingku menjadi gelap. Awan hitam menutupi langit,
menelan cahaya matahari. Suasana mendadak terasa seperti malam yang gelap. Sesaat kemudian,
entah dari mana, serangkaian cahaya menyilaukan mataku. Aku tak bisa mengidentifikasi apa itu.
Hanya cahaya yang menyilaukan dan suara gemuruh yang semakin kuat. Aku berusaha kembali ke
apartemenku, tapi jalan sudah penuh sesak.
Aku terjebak di antara kerumunan yang panik. Tak ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Saat aku
mencoba untuk menghubungi teman atau keluarga, semua sinyal hilang. Tidak ada yang bisa
kudapatkan, tidak ada informasi yang dapat kuterima. Aku kembali ke dalam apartemenku. Tapi kini,
tidak ada listrik. Semuanya gelap. Aku mencoba menyalakan televisi atau radio, tapi semuanya mati.
Aku terjebak dalam keheningan yang menyakitkan. Entah apa yang sedang terjadi. Aku duduk di
sudut ruangan, berusaha memahami keadaan ini. Bagaimana kehidupan sehari-hariku bisa berubah
sedemikian rupa tanpa ada pemberitahuan, tanpa ada peringatan? Aku hanya bisa menunggu,
terjebak dalam keheningan gelap yang membingungkan ini, mencari jawaban atas kacau balau yang
tak terduga ini. Semuanya begitu tidak wajar dan aku harus mencari cara untuk bertahan di tengah
kekacauan ini yang semakin membingungkan.
Chapter 1. SHIFT POCALYPSE
Keheningan yang mencekam pecah dalam suara-suara kehancuran yang tak terbayangkan. Aku
terjaga dalam reruntuhan, di tengah puing-puing yang membentuk lanskap yang menyedihkan. Debu
dan asap menyeruak ke udara, menghantam hidungku dengan bau hangus yang menusuk.
Suara tangisan dan teriakan yang tak berujung terdengar di kejauhan, memecah keheningan
mengerikan. Aku merasa tak berdaya dalam keadaan hancur ini, menyaksikan pemandangan yang
dulu adalah tempat hidupku. Suara-suara itu memanggil bantuan, merintih dan berteriak dengan
keputusasaan yang tak tertahankan. Namun, di tengah kekacauan itu, terasa kekosongan yang
menggelayuti, suara-suara yang hanya memantulkan kesedihan tanpa harapan.
Keterpurukan dan ketakutan terlihat jelas dari tangisan mereka, dan di sanalah cerita pahit mereka
terukir di reruntuhan yang kini menjadi kota hancur ini. Aku hanya bisa berharap agar pertolongan
tiba, agar tangisan-tangisan ini tak lagi terhempas di dalam keheningan yang menakutkan.
Bayangan datang dan pergi, menciptakan dunia yang samar di depan mataku. Meskipun tubuhku
terasa lemah, ada kesadaran yang melintas di benakku. Aku merasakan seakan-akan terjebak di
antara kesadaran dan pingsan.
Suara gemuruh, berderak keras di telingaku, seperti serangan bom yang mengoyak bumi. Debu dan
asap memenuhi udara, membuatku sesak. Suara tangisan, teriakan, dan langkah kaki terdengar samar
di kejauhan, menciptakan rasa kekacauan yang nyata. Meskipun mataku terpejam, dunia di
sekelilingku terasa hancur, penuh dengan keheningan yang menakutkan. Aroma hangus dan bau asap
menusuk hidungku, membuatku merasa tercekik, meskipun tak sadarkan diri sepenuhnya.
Keheningan yang menyeramkan dan suara gemuruh kota yang hancur, kedua-duanya menyatu,
menciptakan kebingungan yang menggelayuti pikiranku yang semakin lemah.
Aku merasakan getaran kehancuran itu dalam hati, seolah-olah diriku mencoba untuk memahami
kekacauan di sekitarku, meskipun tubuhku tak mampu untuk merespons.
Dalam keheningan yang mencekam di antara reruntuhan, aku terdiam, terperangkap di antara beton
yang hancur. Suara-suara tangisan dan teriakan yang putus asa di kejauhan memenuhi kekosongan
yang mendalam. Tubuhku terasa lemah, tetapi hatiku terus menarik nafas harapan. Tiba-tiba, di
tengah hening, terdengar suara yang berbedasuara seseorang yang berusaha memanggil bantuan.
Aku merasa seperti diselimuti oleh kegagalan, tetapi suara itu membawa semacam sinar harapan di
dalam kegelapan yang membingungkan. "Tolong!" Suaranya datang dari kejauhan, tapi terasa dekat
di hatiku. Itu adalah suara seseorang yang tak dikenal, tetapi suaranya penuh dengan keinginan untuk
membantu.
Suaranya begitu jelas, seperti titik terang di tengah keheningan menyedihkan yang melingkupiku.
"Dengar aku! Aku akan mencoba menemukanmu!" Suaranya membawa dorongan kuat, memberi
harapan bahwa aku tidak sendirian di tengah puing-puing ini. Hatiku dipenuhi dengan rasa syukur
yang mendalam. Meskipun terdengar samar, itu memberiku kekuatan untuk bertahan. Aku mencoba
membalas, berteriak sesuara yang mungkin bisa didengarnya di kejauhan. "Saya di sini! Tolong!"
Suaraku hanyalah gemuruh lemah di antara keheningan yang menyedihkan, tetapi aku terus
berteriak, meminta pertolongan. Suara yang tadi terdengar di kejauhan kini semakin dekat,
memberiku semangat yang tak tergoyahkan.
Aku yakin, pertolongan sedang datang. Suara itu, suara dari seseorang yang peduli, membawa
semangat dalam kegelapan ini. Aku tahu, aku tidak sendirian, ada yang berusaha keras untuk
menolongku. Mungkin suaranya tak begitu terdengar jelas, tapi dalam keheningan itu, suara itu
seperti oase di padang gurun keputusasaan. Itu membawa kesejukan bagi hati yang terpanggang
dalam kebingungan ini. Aku hanya bisa berharap agar suara itu semakin mendekat, agar aku bisa
melihat wajah orang yang memberiku harapan di tengah keputusasaan yang melanda.
Tangan dari seseorang yang tidak dikenal pun mulai terlihat olehku, “Pegang tanganku kuat kuat”
sebutnya berancang ancang ingin menolongku, setelah berjuang sekuat tenaga kami berdua pun
akhirnya berhasil.
Yelena: Kamu baik-baik saja? Namaku Yelena (Berjabat tangan dengan Bizhon)
Bizhon: Iya, terima kasih, Yelena, namaku Bizhon. Sebenarnya apa yang terjadi disini?
Yelena: Itu yang juga aku tidak mengerti. Tiba tiba saja kota ini meledak
Bizhon: Benar, seperti ada cahaya yang diikuti ledakan yang menghancurkan segalanya.
Yelena: Kita harus keluar dari sini. Sudah terlalu berbahaya di sini.
Bizhon: Tapi tunggu, tunggu sebentar. Apa yang harus kita lakukan?
Yelena: Itu yang tidak aku tau. Jika solusi kita adalah memanggil polisi atau militer aku yakin daerah
lain juga sudah melakukannya duluan jadi percuma saja.
Bizhon: Kita sebaiknya pergi mencari alat untuk melindungi diri kita sendiri
Yelena: Minimarket, ayo kita ke minimarket sekarang
Bizhon: Ayo, kita tidak ada waktu lagi
Yelena: Aku setuju. Kita harus mencari kebutuhan atau informasi secepatnya
Aku dan Yelena kemudian bergegas ke mini market terdekat untuk mencari stok pasokan makanan
dan persenjataan berharap setidaknya mendapatkan makanan kaleng, minuman botol, dan
setidaknya senjata tajam.
Tiba di minimarket yang sunyi, hampir seluruh rak telah hancur. Aku merasa tegang karena
reruntuhan dan pecahan kaca berserakan di lantai. Meskipun terasa berisiko, kami terus mencari
barang-barang yang masih dapat digunakan untuk bertahan hidup.
Saat kami menjelajah minimarket, Yelena menemukan beberapa kaleng makanan yang masih layak.
Sementara itu, aku lebih fokus mencari barang-barang lainnya seperti air bersih dan obat-obatan yang
mungkin tersisa.
Namun, dalam proses pencarian kami, kami menemukan sebuah laci yang tersembunyi di balik
reruntuhan rak. Di dalamnya, terdapat senjata kecil dan amunisi yang masih dapat digunakan. Yelena
merasa khawatir dengan temuan ini, merasa tertekan dengan situasi yang semakin tak terduga.
Sementara itu, aku yang lebih berani merasa bahwa senjata-senjata ini bisa menjadi alat pertahanan
bagi kami di tengah keadaan yang tak menentu.
Sementara kami tengah sibuk, tiba-tiba kami mendengar langkah kaki di luar minimarket. Terdengar
suara-suara yang mempercepat denyut jantung kami. Kami buru-buru mengumpulkan barang-barang
yang kami butuhkan dan bergegas meninggalkan tempat itu. Di luar, kami merencanakan langkah
selanjutnya untuk bertahan di tengah kekacauan yang semakin berkembang. Kami merasakan
kekhawatiran yang semakin meningkat namun tetap memiliki harapan untuk bertahan di tengah
keadaan yang semakin tak menentu.
Bizhon : Senjata dan makanan, lengkap.
Yelena : Kau yakin mau bawa senjata itu?
Bizhon : Tentu saja, disaat saat genting seperti inilah senjata seperti ini sangat diperlukan
Yelena kemudian sambil membuang nafas berkata dengan terpaksa
“Baiklah”
Yelena : Terus kita mau kemana lagi?
Bizhon : Ayo kita cari tempat bermalam yang aman untuk malam ini, kita tidak tahu apakah ada hal
hal yang tidak ingin kita jumpai diluar sana
Yelena : Baiklah, aku ikuti saja.
Aku dan Yelena berlari melewati puing-puing dan reruntuhan kota yang hancur, mencari tempat yang
aman untuk berlindung malam pertama setelah berhasil melarikan diri dari kekacauan. Langit sudah
mulai gelap dan bayangan yang menakutkan semakin meresap di hatiku.
Saat kami berdua mencari tempat yang aman, aku merasakan detak jantungku semakin keras, rasanya
bagai ditelan kegelapan yang mencekam. Kami melintasi jalan-jalan yang sunyi, mencoba mencari
tempat yang terlindungi dari bahaya yang terus mengintai.
Yelena memegang tanganku, mencoba memberi kekuatan di tengah ketakutan. Aku mencoba
mempertahankan ketenangan, meskipun keadaan di sekeliling terasa begitu mencekam.
Kami berhenti di sebuah bangunan yang tampaknya tak terlalu rusak oleh ledakan. Saat kami
memasuki bangunan itu, kami menyadari bahwa pintu yang ada masih dapat dikunci. Aku segera
memastikan pintu tertutup rapat sementara Yelena mulai mencari ruangan yang bisa dijadikan
tempat berlindung sementara.
Kami berdua terdiam dalam keheningan yang mencekam. Yelena menatapku dengan tatapan yang
mencerminkan rasa kekhawatiran yang sama. Aku mencoba untuk memberikan senyuman untuk
memberikan semangat, tetapi dalam hatiku, kekhawatiran yang mendalam masih menghantui.
Dalam keheningan malam yang mendalam, kami berdua mempersiapkan diri untuk menghabiskan
malam pertama kami di tempat yang mungkin akan menjadi tempat perlindungan sementara dari
kekacauan yang telah kami tinggalkan di luar. Kedua hati kami berharap untuk menemukan keamanan
di tengah keadaan yang tak menentu.
Bizhon: Ini terlihat cukup aman, bukan?
Yelena: Aku harap begitu. Tidak ada yang terlalu pasti sekarang.
Bizhon: Setidaknya pintunya masih bisa dikunci. Semoga ini cukup aman untuk malam ini.
Yelena: Aku merasa... takut, Bizhon. Semua yang terjadi begitu cepat dan saya merasa terkejut.
Bizhon: Kita berdua merasa begitu, Yelena. Kita harus tetap waspada, tapi juga mencoba istirahat
sejenak. Kamu lelah.
Yelena: Aku tahu, tapi aku merasa seperti setiap suara mengagetkan. Bahkan hembusan angin
terdengar seperti ancaman.
Bizhon: Mari duduk, Yelena. Aku ada di sini, kita akan melaluinya bersama.
Yelena: Terima kasih, Bizhon. Maaf, aku... aku takut.
Bizhon: Tidak apa-apa. Kita harus saling mendukung, ya? Malam ini hanya salah satu tantangan. Kita
akan menghadapinya.
Aku dan Yelena sama sama takut namun aku bisa merasakan ketakutan Yelena yang begitu kuat
seakan akan selalu waspada pada setiap suara ataupun pergerakan yang ia lihat maupun dengar.
Melihat hal ini aku pun mencoba untuk menenangkan situasi dan mengajark Yelena untuk mengobrol
santai, namun Yelena tiba tiba bertanya.
Bizhon, pernahkah kamu membayangkan situasi seperti ini sebelumnya?
“Tidak, sama sekali tidak. Sejujurnya, saya lebih sering membayangkan liburan di pantai daripada
menghadapi kekacauan semacam ini.” Aku mengatakannya sambil tertawa kecil
Aku bisa bayangkan. Jujur, aku punya satu daftar panjang tempat yang ingin aku kunjungi sebelum ini
terjadi.” Yelena pun ikut tertawa.
Di mana saja?” Tanya ku.
Jepang, Prancis, dan satu hari nanti aku ingin ke Islandia. Bagaimana denganmu?” Yelena berkata,
lalu bertanya padaku.
Aku selalu ingin menjelajahi India. Sangat tertarik dengan budayanya. Oh, dan Norwegia, sepertinya
indah di sana.” Aku menjelaskan tentang tempat yang ingin aku jumpai
Harapan untuk mengunjungi tempat-tempat indah itu sepertinya lebih sulit sekarang, bukan?
Yelena berkata.
"Benar. Tapi siapa tahu, mungkin satu hari nanti.” Aku menjawabnya sambil menganggukkan kepala
Kami mulai bercerita tentang impian dan harapan mereka sebelum kekacauan ini terjadi,
menciptakan sedikit kilas balik ke masa lalu yang lebih cerah, memberikan sedikit kelegaan dalam
situasi sulit yang mereka hadapi saat ini.
Cahaya yang aku lihat pada awal kejadian kehancuran kota inipun kembali kulihat dari luar jendela,
namun tidak ada ledakkan yang muncul melainkan suara gemuruh langit seperti petir yang sedang
mengamuk, tapi juga terdengar seperti sesuatu yang robek. Dari kejauhan dapat kulihat sesuatu yang
sangat aneh yang belum pernah kulihatsebelumnya, suatu lobang yang mengeluarkan asap merah
dari dalam lobang tersebut.
Yelena, lihat itu, di ujung sana. Apa itu” aku bertanya pada Yelena, lantaran melihat sesuatu yang
aneh
Ya Tuhan, apa itu lobang besar itu” Jawab Yelena dengan kaget dan muka yang sangat ketakutan
Aku tak pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya” Aku pun menjawab perkataan Yelena
dengan reaksi yang sama
“Lobang yang besar.. kenapa itu bisa ada disana?!” Yelena bertanya kembali dengan nada yang lebih
panic dari sebelum nya
Aku memberi saran kepada Yelena, “Apakah kita seharusnya mendekatinya?
“Mungkin lebih baik tidak. Kita tidak tahu apa yang bisa ada di sana.” Jawabnya, tentu saja Yelena
tidak mau namun aku besikeras untuk mengajaknya kesana.
“Jika kita hanya diam disini, kita tidak akan pernah tau apa lobang itu, daripada kita mati disini
berdiam diri dan bersembunyi ditempat ini, mending kita mati berusaha mengetahui tentang lobang
itu” Bantahku.
“Daripada kita kesana langsung, bagaimana jika kita mencari seseorang dulu, mungkin ada yang tahu
tentang fenomena ini? Kita harus mencari seseorang yang paham dengan fenomena ini.” Yelena
menjawab.
Kami berdua merasa takjub, tetapi juga khawatir dengan penemuan yang misterius itu. Perasaan
penasaran terus menggelitik, tetapi kekhawatiran akan keamanan mencegah kami untuk mendekat.
Mereka memutuskan untuk mencari orang lain dan bertanya mengenai temuan misterius tersebut.
“Untuk sekarang sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu, aku tau kamu tidak akan bisa tidur setelah
melihat hal tadi, tapi usahakan untuk tidur.” Ucapku kepada Yelena yang kemudian dibalas dengan
anggukan menyatakan setuju.
Saat pagi tiba, aku pun membangunkan Yelena yang masih tertidur pulas.
“Bangun, ayo kita mencari orang yang ahli dalam fenomena ini” kata ku kepada Yelena yang baru
bangun
Ia pun menanggukan kepalanya dan mulai bersiap siap untuk pergi.
Yelena dan Aku melangkah di antara reruntuhan kota yang hancur. Langkah kamiterdengar seperti
dentuman yang memecah keheningan. Di sekitar kami, bangunan-bangunan yang dulu megah kini
menjadi tumpukan puing dan beton yang berserakan.
"Lihat itu, Yelena. Apa yang bisa membuat lobang sebesar itu?" ucapku, masih kaget dengan
penemuan semalam
"Aneh sekali, seperti jendela ke dimensi lain." Jawab Yelena dengan optimis.
Kami terus berjalan, hati-hati memperhatikan setiap detail di sekitar lobang besar itu. Terdapat tanda-
tanda usaha penyelidikan, seperti peralatan ilmiah yang ditinggalkan, catatan-catatan tercecer, dan
tanda-tanda percobaan yang tidak biasa.
"Sepertinya ada orang yang sedang menyelidiki lobang ini." Ucapku sambil memegang garis kuning
yang di letakkan sesorang
"Mungkin mereka tahu apa yang kita tidak tahu.” Yelena berkata sambil melihat ke segala arah,
berjaga jaga agar tidak ada orang yang melihat mereka
Kami berdua terus menyusuri jejak penyelidikan yang tak dikenal itu. Meskipun tak bertemu
siapapun, kami terus bertukar pendapat dan tebakan tentang fenomena aneh yang mereka hadapi.
Kami mempertimbangkan segala kemungkinan, mencoba merangkai petunjuk-petunjuk yang kami
temukan di sepanjang perjalanan kami. Namun, pertanyaan tentang lobang besar itu terus
menggantung tanpa jawaban yang pasti. Terus menyusuri jejak penyelidikan, kami berharap untuk
menemukan seseorang yang bisa memberi penjelasan yang mereka cari.
Sepanjang jalan kami terus menemukan hal hal aneh seperti catatan catatan dan gambar gambar
yang menunjukkan suatu makhluk yang sangat aneh, berkaki panjang dan raut mukanya seperti orang
bengong.
Kami pun kemudian bertemu dengan seseorang yang kami duga sebagai peneliti karena baju dan
seragamnya yang sangat meyakinkan namun ketika saya teriak, tidak ada respon sama sekali.
“Heyy!!!”
Aku berteriak kea rah Peneliti tersebut namun tidak ada jawaban sedikitoun, lalu aku perlahan lahan
berjalan kea rah orang misterius itu sambil bersiaga untuk hal yang terburuk.
Kami berjalan perlahan kearah orang itu sambil curiga, kami lempari kakinya dengan batu kerikil
namun sama juga, tidak ada reaksi sama sekali
“Pak!! Pak?!, permisi maaf pak bisakah say-“ percakapan ku pun terpotong ketika orang itu tiba tiba
mengayunkan tangannya yang berbentuk seperti bilah pedang yang sangat tajam itu kepadaku,
namun dengan reflek ku yang cepat aku bisa menghindari serangan tersebut tanpa terluka.
“Kaki panjang, raut wajah seperti orang bengong, tangan…. Tajam?!” ucapku sambil menghela nafas
setelah menghindari serangan orang tersebut
Namun dari semua kriteria orang itu terdapat sesuatu yang aneh, mata kiri orang tersebut berkilau
kuning, aku langsung beranggapan bahwa itu titik lemah nya.
“Bizhon! Awas!!” Yelena berteriak memperingati ku akan serangan makhluk aneh ini.
Makhluk itu pun melompat dan berlari sangat kencang, saking kencang nya terlihat seperti dia hanya
melangkahkan satu kaki. Telat untuk bereaksi, lengan ku pun robek akibat sayatan tajam dari makhluk
tersebut, namun aku gunakan momen yang buruk ini untuk mengelabuinya.
Tangan dia yang masih berada di samping kanan ku setelah merobek tangan kanan ku itu aku tending
dan makhluk itupun kehilangan keseimbangan, tak membiarkan kesempatan ini lari aku pun
melompat ke pundak kiri nya dengan kondisi dia yang sedang berputar seperti orang mabuk, dan aku
pun menembak mata kiri nya menggunakan senjata api yang aku temukan dari mini market
sebelumnya.
Makhluk tersebut berubah menjadi bentuk yang lain lagi, bentuk seperti pohon yang sudah layu dan
masih menyerupai manusia.
“Unka gre jiy Qlipoth mo eg-“ Sebelum makhluk itu dapat menyelesaikan perkataannya, badan dia
pun meledak dari dalam dan makhluk itu akhirnya mati.
“Makhluk apa barusan itu??!!... AKH!” Ucapku dengan amarah yang masih merajalela dan rasa sakit
yang sangat dahsyat oleh robekan di lengan ku.
“Bizhon! Angkat tanganmu keatas dan jongkok” ucap Yelena yang segera membuka tas dan
mengambil peralatan pertolongna pertama
Yelena pun mengobati ku dan mecegah pendarahan berlanjut, dia memperban lenganku setelah
menjahitnya.
“Makhluk tersebut berubah menjadi seperti pohon sebelum ia meledak..” Ucap Yelena dengan nada
yang kebingungan namun seperti mencoba untuk mengerti makhluk itu.
“Aku melihat dikertas tadi, karakteristik dari makhluk tersebut dan tulisan “Shifter yang besar yang
dilingkari dengan spidol merah.. atau darah? Aku tidak tau”. Aku menambahkan informasi lebih
kepada Yelena.
“Shifter….” Yelena perlahan lahan mulai mengerti makhluk itu.
Makhluk itu bernama shifter, orang yang menemui nya dan mencatat nya pada kertas yang aku temui
menamainya begitu, memiliki karakteristik kaki yang panjang dan muka seperti orang bengong,
tangan nya panjang dan tajam seperti pedang dan mata kiri yang berkilau menandakan bahwa itu titik
lemahnya, setelah berhasil ditumbangkan, Shifter akan meledak dan mati.
Entah bagaimana makhluk seperti itu bisa ada di bumi kami pun tidak tahu, dan aku yakin banyak
orang yang tidak tahu. Namun aku yakin ini ulah seseorang, seseorang yang mungkin sedang
bereksperimen dengan penelitiannya dan melakukan kekacauan, atau bisa jadi ini hanya kejadian
yang tiba tiba saja terjadi tanpa alas an.
Mau bagaimanapun itu aku yakin 100% bahwa makhluk makhluk ini berasal dari lobang lobang besar
yang muncul dari tanah itu, lobang yang semalam kami lihat, lobang yang besar dan kelihatan sangat
menakutkan. Tapi jika kita ingin tahu akan sesuatu kita harus mencari tahu sendiri.
“Yelena, Lobang itu.. apa mereka..” ucapku sambil berfikir
“Berasal dari sana?” sambung Yelena
Kami berdua mengangguk, mengetahui apa yang harus kami lakukan. Kami harus mencari tahu lebih
dalam lagi, apa lobang itu dan bagaimana itu bisa muncul.
Chapter 2. Call for arms
Polandia, 11 Agustus 2056
14:32
AB :“Militsa, ambil posisi mu, mobil presiden akan segera tiba.”
Militsa : “Sudah membidik presiden.”
AB : “Jangan sampai meleset Militsa, ini satu satunya cara untuk mengacaukan integrasi Negara dan
menyalahkan para Demokrat akibat skandal yang mereka buat sebelum nya”
Militsa : “Jangan khawatir, Revolusi Komunis yang sudah ditunggu tunggu oleh warga polandia akan
segera tiba, hari ini akan dicatat dalam sejarah”
AB : “Baiklah, Bersiap dalam hitungan 3 kau tembak Militsa”
Militsa : “Dimengerti”
AB : “ 1……2….”
“BOOM!” suara ledakan besar terdengar seperti suara petir yang menyambar kepada daerah sang
presiden Polandia.
AB : “AKU BELUM MENGHITUNG SAMPAI 3 SIALAN! DASAR MILIT-
Militsa : “Arkaliv… itu bukan aku yang menembak..”
Arkaliv Britscjik: “Apa? AAAKKH”
Suara tebasan terdengar dari radio AB, tebasan yang sangat keras dan mematikan sehingga AB
meninggal dalam 1 tebasan dan tidak dapat bersuara lagi.
Militsa : “ ARKALIV JAWAB AKU! APA YANG TERJADI DISANA!?”
Militsa dengan kepanikannya bertanya kepada AB yang sudah meninggal dan tidak mendapatkan
respons.
“SIALAN!” Militsa berteriak kearah langit sambil menutup mata, namun ketika dia membuka mata dia
terkejut
“a-apa.. itu?!” dengan suara yang pelan namun sangat emosional Militsa pun bertanya Tanya padanya
apa yang ia lihat di langit langit.
Benda tersebut seperti pesawat dari masa depan, tidak pesawat itu seperti di film film, namun kenapa
ada sangat banyak.
Hamburg, German. 13 Agustus 2056
Disuatu fasilitas riset yang dimiliki jerman terdapat seorang astrologer, Sascha.
Ia merupakan astrologer yang tidak dikenal rakyat rakyat jerman karrena tidak terlalu berkontribusi
pada penemuan penemuan jerman.
Ia sangat senang mempelajari tentang distorsi waktu, ruang dan dimensi. Dia sangat percaya dalam
konsep multiverse atau sesuatu yang mirip dengan konsep itu.
Sascha yang melakukan aktivitasnya seperti biasanya, menghidupkan televise dan melihat berita
dengan headline,
“LANGIT LANGIT ROBEK, POLANDIA DALAM
KEKACAUAN”
Sascha pun setelah meihat berita tersebut tercengang dan kaget serta sedikit senang karena teori
yang selama ini ia pelajari ternyata terwujudkan, langit langit yang bisa dicakar dan menciptakan
distorsi pada ruang dan waktu, itulah impian Sascha.
Suara gemuruh pun terdengar dari segala arah dan suara teriakan orang orang di kota kota pun bisa
terdengar dari jauh.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Sascha.
Sascha pun keluar dari fasilitas itu dan melihat sekeliling nya, mendapati lingkungannya yang sudah
kacau balau, langit langit terlihat berwarna merah, biru, hitam sekaligus.
Galaxy seakan akan bisa terlihat dari bagian hitam di langit, terlihat seperti robekan pada suatu
kertas.
Sascha yang sedang kegirangan pun menoleh kesamping dan melihat dari kejauhan, ia melihat
makhluk yang tinggi dan misterius.
“Halo? Pak?” Sascha berteriak namun respon dari makhluk itu adalah lari sekencang mungkin kea rah
Sascha.
“PAK?!” ucap Sascha yang kaget dan ketakutan.
Athens, Yunani. 10 Agustus 2056
“Arion! Cepat masuk ke dalam!” Teriakkan seorang perempuan yang sanagt ketakutan itu terdengar
sangat kerasbdari ruangan yang tertutup dan kecil.
“Filia! Jangan ditutup dulu!” Pria bernama Arion itu pun menjawab teriakan dari wanita bernama Filia
tadi dan berlari sekencang mungkin agar bisa masuk ke dalam ruangan yang aman.
“AAAAAAAAAAARGHHHHHHHHH!” Teriak Arion sambil berlari.
Arion pun akhirnya tiba pada ruangan tersebut dan langsung mengunci pintu dan makhluk yang
mengejar Arion tadi pun mencoba mendobrak pintu ruangan Arion dan Filia, jika pintu itu di dobrak
maka mereka akan mati karena mereka berada dalam ruangan bawah tanah yang hanya memiliki satu
jalan keluar.
“Makhluk apa itu!” Sontak Filia teriak ketakutan
“Mana aku tahu! Yang jelas itu makhluk yang sangat tinggi dan menakutkan.” Jawab Arion.
Mereka pun akhirnya terjebak di ruangan bawah tanah tersebut dengan suplai makanan darurat yang
bisa bertahan selama kurang lebih 1 bulan dan system radio yang terhubung pada ruangan utama dari
fasilitas peneltian mereka.
“Halo??.. Halo?!” Arion berteriak pada radio itu berharap mendapatkan jawaban dari ruangan utama
namun hasilnya nihil.
“ARGH! APA APAAN MAKHLUK ITU!” Teriak Filia yang penuh dengan amarah.
Volgograd, Russia. 5 Agustus 2056
Peperangan sudah terjadi selama 3 hari setelah kedatangan para Shifter di Tanah Russia namun
perlawanan itu tidak efektif karena para shifter itu terus berdatangan dari entah darimana.
“Sergei! Ambillah posisi tinggi, akurasi tembak mu selalu bagus, jangan buang buang waktu dibawah
sini dan bidiklah musuh dari atas agar dapat pandangan yang lebih luas lagi, usahakan bunuh para
monster ini dengan 1 peluru.” Ucapan dari atasan itu memeasuki kepala Sergei.
“Siap! Komandan Vasiliv! Saya tidak akan mengecewakan anda!” jawab Sergei, lalu ia memanjat
keatas tower yang tinggi, sambil menyaksikan kekacauan terjadi di sekeliling nya.
Sergei pun akhirnya sampai pada bagian paling atas tower tersebut dan mulai menembaki para Shifter
dari jauh.
“6..7..8… dan 9 sial, orang orang ini sangat kebal”
Ucap Sergei yang semakin lama terdengar seperti putus asa. Setiap Sergei menembakkan dan
menjatuhkan para Shifter, Shifter itu kembali berdiri kembali.
“Aku sudah menembakkan kepala, kaki, dan badan. Mengapa mereka tidak mau mati mati?!”
Ucap Sergei yang semakin lama semakin gila dibuat oleh situasi yang mencekam itu.
“Komandan Vasiliv! Suplai peluru sudah ha-
Sergei melihat ke arah Komandan Vasiliv, Sergei melihat badan Komandan Vasiliv yang sudah tidak
berkepala tertusuk oleh salah satu Shifter dan dia tidak melihat tentara lainnya.
“Komrad! Dimana kalian semua?!” Sergei berteriak sekuat mungkin, ingin menarik perhatian prajurit
yang masih tersisa namun tidak ada yang menjawab panggilan nya.
Para shifter yang mendengar suara teriakan Sergei pun mulai berdatangan ke arah Sergei dan
mengelilingi tower yang di injak Sergei,
“PERGI KALIAN SEMUA MONSTER BIADAB!” Sergei mengambil pelontar api yang tersedia di tower
tersebut dan mencoba membakar mereka semua dari atas namun tidak berhasil juga.
“AKU HARUS APA UNTUK MEMBUNUH KALIAN SEMUA DASAR KEPARAT!”
Sergei kemudian melihat kearah mata kiri mereka yang berkilau kemudian menyiapkan senjata jarak
dekat untuk mencoba menembak mata itu.
“URRRAAAAAAAAAAAAA!!” Teriak Sergei menembak mata kiri para shifter itu dan mereka semua pun
mati seketika dan meledak dari dalam.
“Teman temanku kalian bunuh, sekarang tinggal aku sendirian dasar makhluk makhluk serakah” ucap
Sergei yang kelelahan menahan semua Shifter.
Sergei kemudian mengirimkan sinyal transmitter ke seluruh system radio di eropa.
... --- ... / -... ..- - ..- .... / -... .- .-.. .- / -... .- -.
- ..- .- -. / -.. .- -. / .--. . .-. ... . -. .--- .- - .- .- -.
SOS BUTUH BALA BANTUAN DAN PERSENJATAAN”
Volgograd, Russia , 7 September 2056
Setelah berjalan melewati Turkiye, dimana Bizhon dan Yelena mendapatkan kendaraan mobil dan
beberapa pasokan minyak untuk terurs mengemudi dan tahan untuk sekitar 2 minggu perjalanan,
mereka pun pergi kearah Russia karena mendapatkan sinyal dari radio yang mereka miliki di dalam
mobil mereka.
Dengan perlengkapan dan persenjataan yang kami jarah dari markas militer Turkiye yang sudah
terbengkalai, kami mendapatkan sekitar 3 box senjata dan suplai makanan yang bisa bertahan selama
3 bulan dan juga mobil RV yang cukup luas dan bisa menumpang berat barang yang kami bawa.
Yelena dan saya meluncur dengan perlahan melalui jalan-jalan yang pernah hidup kini telah berubah
menjadi reruntuhan kota-kota yang hancur, akibat dari perang yang mengguncang Rusia dalam upaya
melawan para Shifter.
Setiap sudut kota yang hancur ini menjadi saksi bisu dari pertempuran sengit yang terjadi di masa lalu.
Dinding bangunan yang runtuh, kendaraan yang terbakar, dan keheningan menakutkan yang
menyelimuti jalanan yang dulu pernah penuh dengan keramaian, semuanya mengingatkan kita akan
kehancuran yang telah terjadi.
Sebagai orang yang berpengalaman melawan Shifter, kami tahu betapa berbahayanya makhluk-
makhluk itu. Mereka bisa berubah menjadi apapun yang mereka inginkan, menyamar sebagai
manusia biasa, dan menyusup ke dalam masyarakat kita. Upaya kita untuk menghentikan mereka
telah menghancurkan banyak kota, tetapi ini adalah perang yang harus kita perjuangkan.
Kami berdua tak bisa tidak terguncang oleh pemandangan di sekeliling kami. Yelena duduk di sebelah
saya, wajahnya tampak muram, tetapi penuh dengan tekad. Kita berdua tahu bahwa misi ini sangat
penting, dan kita tidak boleh menyerah. Kami harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kota
Volgograd.
Meskipun hati kami penuh dengan ketidakpastian, kami terus maju, dengan senjata-senjata yang siap
di tangan kami. Kami tak tahu apa yang menunggu kami di Volgograd, tetapi kita harus mencoba
menghentikan ancaman para Shifter. Keheningan yang mendalam hanya dipecah oleh suara mesin
mobil kami dan kerusakan di sekitar kami.
Saat matahari perlahan terbenam, kami tiba di gerbang kota Volgograd yang hancur. Kami harus
berhati-hati, karena Shifter bisa berada di mana saja, menunggu kesempatan untuk menyerang. Misi
ini akan menjadi salah satu yang paling berbahaya yang pernah kami jalani, dan kita harus bersiap
untuk menghadapinya. Kami memasuki kota dengan hati-hati, tidak tahu apa yang akan kami temui di
dalam kehancuran ini.
Aku dan Yelena melintasi gerbang kota Volgograd yang hancur, menanggapi panggilan darurat dari
Sergei, salah satu anggota militer yang tersisa yang meminta bantuan lewat radio. Kota ini penuh
dengan puing-puing dan sisa-sisa perang melawan para Shifter, dan kami tahu bahwa tugas ini tidak
akan mudah.
Mobil kami berjalan perlahan melintasi jalan-jalan yang dulu pernah ramai dengan kehidupan,
sekarang hanyalah puing-puing yang menyedihkan. Bangunan yang runtuh, kendaraan yang terlantar,
dan keheningan menakutkan. Aku menggenggam erat kemudi, hati-hati memperhatikan setiap gerak
di sekitar, siap untuk bertindak saat diperlukan.
Yelena yang duduk di sebelahku, matanya penuh dengan tekad dan kewaspadaan. Kami harus
berhati-hati, Sergei mungkin terjebak di tengah kota yang hancur ini, di antara reruntuhan yang tak
beraturan dan bahaya yang mungkin mengintai di setiap sudut.
Aku merasakan adrenalin memuncak dalam tubuhku ketika kami mendekati titik koordinat yang
diberikan oleh Sergei. Aku merasa tegang, karena tidak tahu apa yang kami akan temui di sana.
Dengan senjata yang siap, kami akhirnya tiba di lokasi yang disebutkan oleh Sergei.
Aku keluar dari mobil dengan hati-hati, siap untuk bertindak secepatnya. Puing-puing bangunan yang
runtuh menjadi latar belakang ketika aku memasuki area yang sunyi. Kami terus mencari tanda-tanda
keberadaan Sergei, siapa pun yang mungkin butuh pertolongan.
Di antara reruntuhan, aku mendengar suara gemuruh yang tak dikenal. Aku melihat Yelena
memberikan isyarat untuk tetap waspada. Kami terus berjalan, hati-hati memeriksa setiap sudut kota
yang hancur ini. Sesuatu yang terjadi di sini, dan kami berdua tahu bahwa kami harus berhati-hati.
Setelah beberapa saat, kami mendengar suara lemah yang terdengar dari balik tumpukan puing. Aku
bergerak mendekat, dan di sana, aku melihat Sergei, terluka namun masih hidup. Senang melihatnya
selamat, aku segera memberikan pertolongan, dan Yelena berjaga di sekitar, siap untuk bertindak jika
ada bahaya yang mengintai.
Kami pun membawa Sergei masuk ke dalam mobil RV kami dan mengobati luka luka yang dialami
Sergei.
“Halo? Halooo? Kamu dengar suara saya?” ucap Yelena sambil mengayun ayunkan tangannya di
depan mata Sergei
Sergei pun terbangun dan melihat sekitar,
“Dimana ini? Bukannya aku tadi sedang melawan Shifter? Aku ingat tower yang aku tempati rubuh
akibat para shifter ini mencoba mendaki towernya dan membuat towernya keberatan.”
Ucap Sergei dengan nada yang kalem dan berkepala dingin.
“Tapi siapa kalian? Kenapa kalian membawaku ke dalam RV? Kalian mau curi aku? Dimasa masa bumi
sedang hancur kiamat seperti ini??” Sergei bertanya namun dengan nada yang sangat mengancam.
“Kami mendengar permintaan tolong anda dari radio di Turkiye, sejauh ini kami berjalan untuk
menemui mu dan menyelamatkan mu Sergei.”
Ucap Yelena yang ingin menyadarkan Sergei bahwa kami tidak ingin mencari masalah dengannya
“Ya tuhan baguslah kalau begitu, aku terus berdoa tiap hari bahwa ada yang mendengarkan
permintaan pertolongan ku di radio dan akhirnya pertolongan itu datang.”
Sergei membalas Yelena, dan melanjutkan
“Terimakasih jika niat kalian memang untuk membantuku, namun jika kalian ada maksud lain dari
menolongku maka ingat baik baik, tulang kaki kalian akan saya patahkan satu persatu dan
membiarkan kalian di serang oleh para Shifter itu tanpa bisa memberi sedikit perlawanan.
“Baiklah Sergei, tolong tenangkan dirimu kami tidak akan melakukan sesuatu padamu, lagian pula
badanmu saja sudah terlihat seperti monster, aku aja gamau ganggu ganggu kamu” aku membalas
Sergei dengan upaya menurunkan suasana kembali.
“Sergei…. Apakah kamu punya kenalan yang mungkin ahli dalam astrologi atau bidang bidang yang
bersangkut paut dengan elemen elemen di bumi ini?”
Tanyaku kepada Sergei, Sergei menjawab
“Ya.. dia sekarang berada di Jerman. “ ucap Sergei
“Baiklah mari kita ke Jerman dengan secepat mungkin” ucapku kepada Sergei dan dia mengangguk
dengan senang hati.
Kami bergegas menempati tempat masing masing, aku sebagai driver RV, Sergei sebagai penembak di
atas RV dan Yelena sebagai nanvigator. Perkiraan untuk sampai ke Jerman adalah 2 hari, namun
karena gerbang polandia tidak bisa dilewati oleh mobil, maka waktu perkiraan menjadi 3,5 hari.
Budapest, Bulgaria, 10 November 2056
Setelah berada dalam perjalanan selama kurang lebih 3 hari, kami pun tiba tiba mendapatkan sinyal
permintaan tolong lagi dari arah Yunani, melihat keberadaan kami sangat dekat dengan hungaria
kami pun berinisiatif kesana untuk menolong siaapa pun yang mengirim sinyal tersebut.
Aku, Yelena, dan Sergei melintasi Budapest yang hancur, sebuah kota yang sekarang hanyalah
bayangan dari kejayaannya yang dulu. Kekacauan akibat invasi Shifter telah merusak segalanya. Aku
bisa melihat puing-puing bangunan yang terlantar, kendaraan yang terbakar, dan jalanan yang retak
dan berlubang.
Kota yang dulu dipenuhi dengan kehidupan, kini hanya sunyi dan terlantar. Puing-puing yang tinggi
menjulang di sekitar kami, menciptakan lanskap yang penuh dengan kehancuran. Bau asap dan debu
masih terasa di udara, mengingatkan akan pertempuran yang mengerikan yang pernah terjadi di sini.
Kami melaju perlahan dengan mobil, harus berhati-hati karena jalan-jalan penuh dengan rintangan.
Senjata-senjata yang terlupakan terbaring di jalanan, mengingatkan kami akan bahaya yang pernah
mengintai di sini. Aku melihat dinding-dinding bangunan yang telah roboh, hanyalah sisa-sisa
kehancuran yang menyisakan pemandangan yang tragis.
Langit mulai menggelap, dan bayangan reruntuhan menjadi semakin menyeramkan. Cahaya matahari
terbenam menciptakan siluet-siluet mengerikan dari puing-puing yang mengelilingi kami. Aku merasa
tegang, karena aku tahu bahwa keheningan yang menyelimuti kota ini bisa menjadi tipuan. Bahaya
bisa bersembunyi di mana saja, dan kami harus tetap waspada.
Aku meraba senjata yang ada di pangkuanku, siap untuk bertindak jika ada ancaman yang muncul.
Budapest yang pernah indah kini menjadi kota yang hancur, tetapi kami harus melewati kekacauan ini
untuk mencapai tujuan kami di Yunani. Meskipun pemandangan di sekeliling kami mengingatkan akan
kehancuran, kami tetap harus maju, karena hanya dengan itu kami bisa berharap menemukan
keselamatan di ujung perjalanan kami.
Melihat situasi sudah malam dan mempertimbangkan kekuatan kami, kami tidak bisa bertarung pada
malam hari menggunakan peralatan yang tersedia sekarang, kami bersedia untuk bermalam pada
bukit yang terletak di dekat perbatasan Bulgaria.
Sergei yang sudah kelelahan tertidur pulas ketika mobil berhenti, aku dan Yelena kemudian
berbincang bincang masalah rencana kami selanjutnya untuk menginvestigasi “Lubang” yang tercipta
di tanah tanah, namun ketika sedang membicarakan hal tersebut, Seekor ulat besar yang menggali
tanah keluar dari bawah tanah dan meledak dari dalam sama persis seperti yang shifter lakukan jika
mereka mati.
Dalam ledakan tersebut saya melihat cahaya yang sangat terang dan itu kembali lagi, “Lubang”
dibawah tanah itu muncul lagi dihadapan aku dan Yelena.
Karena sudah melihat proses itu terjadi depan mata kepala kami sendiri kami pun kemudian mulai
berteori dan memberi pendapat atas kejadian yang terjadi barusan saja.
Kami berbincang hingga lupa waktu, waktu menunjukkan sudah jam 3 pagi dan kami pun bergegas
tidur agar dapat tenaga untuk menjalani misi esok hari.
Dan ketika kami mau tidur, radio itu bersuara lagi,
“KAMI MASIH BERTAHAN, TOLONG BANTU KAMI KELUAR DARI
YUNANI, KAMI BUTUH KENDARAAN”
Suara yang terdengar sangat nyaring itu membuatku terjaga semalaman dan memutuskan untuk
menyetirkan mobil ketika mereka tidur agar dapat menyicil pekerjaan team. Sesampainya pada
tempat yang dituju aku pun mulai melihat mereka yang melambaikan tangan di atas atap sebuah
fasilitas riset.
Salah satu dari mereka yang perempuan sudah masuk ke dalam RV dan ketika yang laki laki mencoba
masuk ke dalam RV kami kami melihatnya lagi, Cahaya kilat itu yang selalu mengikuti kami.
Athens, Yunani, 11 November 2056
Kami pun bergegas pergi ke Jerman setelah menjemput kedua orang Yunani tersebut, sambil berjalan
kami pun bertanya Tanya kepada mereka.
“Apakah kalian sudah melihat mereka? Makhluk yang tinggi dan memiliki tangan seperti pedang itu?”
tanyaku kepada mereka berdua
Filia menjawab “Kami dikejar dan disudutkan di ruang bawah tanah dan tidak memiliki jalan keluar,
semua ini karena Arion yang bodoh ini”
Arion pun mencela “Enak aja?! Siapa yang ga mikir untuk lari keluar dan malah mikir untuk sembunyi
di ruangan bawah tanah karena “rasanya lebih nyaman” HAH?”
Filia menjawab : “Siapa sih yang larinya lambat sampai aku gabisa mikir buat hal lain dan hanya bisa
mikir keamanan orang itu?!”
Melihat situasi yang memanas aku pun menengeahi mereka,
“Sudah, kita tidak disini untuk berantam, aku hanya bertanya kepada kalian jika kalian sudah ebrtemu
dengan akhluk itu atau belum
Keduanya kemudian menganggukkan kepala, memberikan jawaban “Iya” kepadaku.
“Kalian tahu kalau mata kirinya adalah titik kelemahan mereka?” ucapku kepada mereka
Mereka pun menjawab :” Kami tahu ketika makhluk itu hampir membunuhku” ucap Filia.
“Baiklah cukup itu saja, silahkan istirahat saja dulu. Kita kumpulin tenaga untuk perjalanan berikutnya,
silahkan tidur.”
Setelah itu aku terus berjalan menuju Jerman melewati jalur tercepat yang tersedia di map.
Suasana menjadi tenang, tidak ada suara namun mencekam.
Aku mengemudikan RV melalui reruntuhan kota-kota yang terpukul akibat perang melawan Shifter.
Pemandangan yang kuhadapi, reruntuhan bangunan dan jalan-jalan yang terlantar, menggelitik rasa
sedih di hatiku. Aku merenung, memandang setiap sisi jalanan yang pernah hidup, kini hanya penuh
dengan puing-puing dan keheningan yang menakutkan.
Reruntuhan ini memberiku gambaran jelas akan betapa besar pengaruh perang terhadap kehidupan.
Aku terus mengemudikan RV, mencoba untuk tetap fokus dan memperhatikan sekitar. Terkadang, di
tengah keheningan, aku bisa mendengar suara gemuruh yang mengingatkan pada pertarungan hebat
yang pernah terjadi di sini.
Aku merasa bertanggung jawab untuk menemukan solusi yang tepat dalam menghadapi ancaman
Shifter ini. Meskipun pemandangan di sekitarku suram, aku tetap percaya bahwa ada harapan untuk
masa depan. Aku terus maju, melewati setiap kota yang hancur, dengan harapan bisa menemukan
jawaban yang bisa membawa perubahan bagi dunia ini.
Ketika ditengah perjalanan, saya merasakan tanah yang mulai berguncang dan bergemuruh, dari
pelan kemudian kencang.
Lubang kematian yang sebelumnya kami liat pun tiba tiba saja muncul dibawah mobil namun aku
masih sempat untuk mempercepat mobil dan bergerak ke arah ujung lobang tersebut
Dari lubang tersebut keluarlah seekor cacing besar yang berwarna biru neon, beda dari cacing lain
yang berwarna coklat.
Walaupun sudah sekuat tenaga aku masih sedikit telat dan ban belakang mobil pun akhirnya
menjorok kearah lobang tersebut, membuat mobil RV kami terseret ke arah lobang.
“Semuanya!! Bangun!” teriakku pada semua orang di dalam RV
Semua orang yang berada di dalam RV pun terbangun namun masih dalam keadaan mengantuk
“Ada apa? Kenapa tiba tiba kami dibangunin?” ucap Yelena yang masih mengantuk sambil menguap.
Lu-Lubang itu, muncul lagi” ucapku kepada mereka sambil ketakutan
Mereka pun akhirnya melihat keluar kaca dan mendapati pemandangan yang mengerikan
Api biru, langit yang tersobek sobek, tanah yang memiliki akar berwarna biru muda, dan lubang besar
yang berada di pusat bundaran itu.
“Semuanya keluar dari RV! Aku akan menahan pedal gas untuk menahan mobil agar tidak jatuh ke
dalam lubang, cepat keluar!”
“Terus kamu bagaimana?” tanya Yelena kepada ku
“Aku akan baik baik saja, tenang saja. Kalian carilah orang yg meminta pertolongan itu, radio yang
mentrasmit sinyal pertolongan itu berasal dari suatu fasilitas, pergi dan cari orang itu mungkin kalian
akan mendapat sesuatu yang lebih untung dari menyelamatkan mereka.” Ucapku meyakinkan
mereka.
“Tolong jaga dirimu Bizhon, kita akan bertemu lagi”. Ucap Yelena padaku
“Bizhon, jika kau mati, aku akan menghukuk jiwamu di neraka” Ucap Sergei.
“Kita belum berkenalan dekat, tapi terimakasih sudah membantu kami.. jika kita bertemu lagi, aku
berhutang budi padamu”
“Terimakasih, Bizhon..” Ucap kedua orang Yunani tersebut.
Mereka pun akhirnya keluar dari mobil RV dengan membawa 2 senjata dan 4 tas berisikan
makanan,amunisi,dan prtolongna pertama.
Sementara aku, aku membiarkan mobil jatuh untuk sejenak dan kemudian menekan gas mobil itu
hingga maksimal, dengan kecepatan maksimal aku mulai mengitari Lobang besar itu, perlahan
mengumpulkan momentum untuk bisa naik ke atas permukaan namun sia sia.
Gravitasi yang menarik kedalam lubang itu jauh lebih kuat, mobil pun terseret kedalam dan jatuh ke
dalam lubang besar yang menakutkan itu.
Hawa panas yang sama seperti matahari di teriknya siang hari mulai terasa di sekujur badanku, suara
suara aneh yang terdengar bukan seperti suara manusia berbisik di telingaku, dan pada akhirnya
semua itu hilang.
Suara, hawa panas, monster shifter. Semuanya hilang seketika ketika aku masuk ke bagian dalam
lubang tersenut, lubang tersebut sangat gelap.. gelap dan dingin, rasa putus asa mulai mengisi
pikiranku, namun setelah melayang layang di dalam lubang itu aku melihat sesuatu, sesuatu yang
menyerupai sebuah pohon.
Melihat “pohon” tersebut, aku pun mulai mencoba mendekati nya namun nihil hasil, diruangan yang
tanpa gravitasi itu aku tidak dapat bergerak sedikit pun. Namun tiba tiba aku terasa seeprti ditarik,
ditarik oleh suatu tali yang menyerupai akar seolah olah mengajakku untuk eprgi ke pohon itu.
Sesampainya aku di pohon itu aku menganalisa pohon tersebut, daun berwarna biru dan hitam,
batang yang memiliki corak corak seperti hieroglyp, kubangan air yang berwarna ungu dan akar akar
yang seolah olah menari menyambut kedatanganku.
Setelah melihat semua itu, aku mulai mencari tau apa arti hieroglyph yang terpampang pada pohon
itu dan mencoba untuk mengurutkan kejadian yang tercatat disana.
Taman indah
Burung yang berukuran besar
Orang orang yang memuja burung tersebut, lalu ada sesuatu yang menarik..
Burung besar tersebut tampak seperti menjatuhkan sesuatu, berbentuk seperti bibit pohon.
Bibit pohon berubah menjadi pohon, dan pohon tersebut dimakan kembali oleh burung tersebut
Jika memang benar yang di tulis pada hieroglyph tersebut maka seharusnya ada burung yang akan
memahan buah dari pohon ini, namun setelah lama tumbuh, buah tersebut belum juga dimakan oleh
burung yang digambarkan.
Aku mulai merasa tertarik untuk mencoba buah itu namun pada saat yang bersamaan aku merasa
takut untuk mencobanya, takut akan efek samping yang akan terjadi padaku. Namun semakin dilihat
lihat semakin menarik.
“Ya tuhan, tolong selamatkan diriku”
Akupun mulai melangkah mendekati pohon tersebut dan mengambil buah biru itu yang berukuran
sebesar bola rugby, dan setelah memberanikan diri akupun memakan buah itu, 1 gigitan 2 gigitan
hingga 14 kali gigitan, akhirnya buah itu habis dan akupun tertidur .
Yunani, 12 November 2056
Setelah berjalan selama kurang lebih 23 km, Sergei, Yelena, Filia dan Arion menemukan sebuah truk
berisi perlengkapan rasional yang mereka gunakan untuk perjalanan mereka ke Jerman.
Sergei: "Jalan ini semakin sulit dilalui, dan aku mulai merasa ragu apakah kita akan berhasil melewati
kota-kota ini dengan selamat."
Yelena: "Ragu adalah hal yang wajar, Sergei. Tapi kita harus melanjutkan. Tidak ada pilihan lain.
Semua orang, jaga kewaspadaan dan pastikan senjata kalian siap."
Arion: "Aku setuju. Rasanya tidak nyaman melewati tempat-tempat seperti ini. Setiap sudut bisa
menjadi tempat persembunyian yang berbahaya."
Filia: "Dan bagaimana kita bisa yakin bahwa Jerman akan lebih aman? Bagaimana jika situasinya di
sana sama parahnya?"
Sergei: "Itu memang mungkin, Filia. Tapi kita harus mencoba. Kita tidak bisa bertahan di sini untuk
selamanya."
Yelena: "Sergei benar. Kita tidak bisa terus-terusan hidup dalam ketidakpastian. Yang penting, kita
bergerak maju, bertahan satu langkah demi satu langkah."
Arion: "Aku hanya berharap kita bisa menemukan tempat yang benar-benar aman. Rasanya seperti
kita hanya berpindah dari satu bahaya ke bahaya lainnya."
Filia: "Tapi apa alternatifnya? Kita harus mencoba. Mungkin di Jerman kita bisa menemukan jawaban
yang kita cari."
Sergei: "Tidak ada jaminan, tapi setidaknya kita melakukan yang terbaik. Sekarang, mari lanjutkan
perjalanan ini dengan hati-hati."
Mereka melanjutkan perjalanan, tetapi setiap langkah yang mereka ambil penuh dengan
ketidakpastian dan rasa tidak nyaman. Meskipun mereka tahu bahwa harapan adalah satu-satunya
hal yang dapat mereka pegang, tetapi keraguan dan ketidaknyamanan tetap melekat dalam
percakapan mereka, mencerminkan realitas yang sulit dari perjalanan mereka.
Setelah itu mereka melanjutkan berkendara menuju Jerman, dengan pasokan minyak yang sedikit,
mereka melakukan apapun yang mereka bisa agar bisa sampai ke Negara Jerman.
Namun disetiap perjalanan tersebut mereka selalu teringat akan Bizhon,
Sergei: "Kita belum mendengar kabar dari Bizhon dalam beberapa hari ini. Aku mulai khawatir, apakah
dia baik-baik saja?"
Yelena: "Tentu saja aku khawatir. Bizhon adalah satu-satunya pemimpin kita, dan kehilangannya akan
menjadi pukulan berat bagi kita semua."
Arion: "Namun, kita perlu menghadapi kenyataan bahwa dalam situasi seperti ini, kontak dan
informasi bisa sulit ditemukan."
Filia: "Aku hanya merasa ragu dan takut. Bagaimana jika dia menghadapi sesuatu yang tidak bisa
diatasi?"
Sergei: "Kita tidak bisa berspekulasi terlalu jauh. Bizhon adalah prajurit yang tangguh. Mungkin dia
hanya terjebak tanpa kemampuan untuk memberi kabar."
Yelena: "Saya khawatir apakah kita harus melanjutkan perjalanan tanpa dia. Tetapi apakah itu
keputusan yang benar?"
Arion: "Kita harus mempertimbangkan semua kemungkinan dengan hati-hati. Tetapi juga ingat, kita
tidak bisa kembali ke masa lalu."
Filia: "Hanya saja rasanya begitu rapuh, kita bisa kehilangan anggota tim kita lagi."
Sergei: "Semua orang merasakannya, Filia. Tetapi kita harus tetap bersatu dan melanjutkan. Jika
Bizhon masih hidup, dia akan mencari cara untuk bergabung dengan kita. Kita harus
mempercayainya."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, membawa beban hati yang berat, khawatir tentang nasib
Bizhon. Namun, di tengah ketidakpastian, mereka juga tahu bahwa mereka harus tetap fokus pada
perjalanan mereka dan menjaga satu sama lain.
Sebelum malam menyelimuti jalanan yang suram itu, mereka merayakan momen singkat ketenangan
di dalam sisa-sisa kehidupan kota. Sejak pagi, cuaca terasa tegang dan berat, menggambarkan
suasana yang tidak pasti. Sinar matahari yang berusaha menembus awan kelabu memberikan kilatan
terakhir sebelum senja tiba.
Sergei, Yelena, Arion, dan Filia berjalan melintasi kota yang terabaikan, mencari tempat perlindungan
untuk malam yang akan datang. Bangunan-bangunan yang rusak dan jalan yang dipenuhi puing-puing
memberikan kesan bahwa kota ini telah ditinggalkan begitu saja, ditinggalkan oleh masa lalu yang
terkubur oleh serangan Shifter.
Mereka melihat reruntuhan sebuah toko kecil yang masih menyisakan sebagian dindingnya yang
berdiri. Tanpa memiliki alternatif yang lebih baik, mereka memutuskan untuk bertahan di sana
sementara waktu. Dalam keheningan, mereka berbicara tentang perjalanan mereka, mencari jawaban
yang belum mereka temukan.
Malam pun datang dengan perlahan, menandai awal dari ketidakpastian yang akan datang. Lampu-
lampu jalan yang berkedip-kedip di tepi jalan memberikan nuansa kegelapan yang berlapis-lapis,
menciptakan bayangan yang menakutkan.
Tanpa mereka sadari, suasana gelap dan sunyi berubah menjadi panggung untuk pertunjukan yang
tak terduga. Entitas-entitas tak dikenal mulai muncul, mengejutkan mereka dan mengubah malam
yang sebelumnya damai menjadi kisah horor yang tak terduga. Momen ketenangan tadi seolah
menjadi kontras dengan suasana tegang yang menyelinap di antara bayangan jalanan yang sunyi.
Malam melingkupi jalanan yang sudah hancur, penuh dengan reruntuhan dan bangunan yang roboh.
Sebuah kabut tipis mengambang di udara, menambah kesan misterius pada suasana. Jalan yang
tertutup puing-puing memberikan kesan bahwa seseuatu telah melanda tanpa ampun.
Sergei, Yelena, Arion, dan Filia melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati, setiap meter mereka
penuh kewaspadaan. Suara langkah kaki mereka terdengar seperti gema di tengah keheningan
malam. Lampu-lampu jalan yang remang-remang hanya menyorot sebagian kecil dari jalanan yang
tampaknya tak berujung.
Tiba-tiba, suasana berubah. Angin malam terasa semakin dingin, dan atmosfer menjadi tegang.
Mereka merasa seperti sedang diawasi, bahkan diserang oleh sesuatu yang tak terlihat. Sergai
mendekati keempatnya, tangan dipegang erat pada senjatanya.
Di tengah keheningan, terdengar suara langkah kaki yang tidak dikenal, halus namun jelas terdengar
di antara suara kerikil yang bergesekan. Cahaya bulan yang bersinar temaram membuat bayangan-
bayangan gelap terlihat semakin menakutkan.
Tiba-tiba, entitas-entitas tak dikenal itu muncul dari kegelapan. Bentuk bayangan yang tak terdefinisi,
memiliki ciri-ciri yang membuat bulu kuduk merinding. Suasana horror menyergap mereka seketika,
membuat mereka kaget dan tidak tahu harus berbuat apa.
Yelena menarik nafas dalam-dalam, sementara Arion dan Filia menggenggam senjata mereka dengan
erat. Suasana horor merayap di antara mereka, diwarnai oleh cahaya bulan yang menyorot wajah-
wajah mereka yang penuh ketidakpastian.
"Siapa mereka?" desis Sergei, mata mereka berusaha memahami apa yang tengah menghampiri
mereka.
Entitas-entitas itu melangkah perlahan, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya mata
yang menatap dengan intens, memberikan kesan bahwa mereka membawa beban rahasia dan
ancaman yang tak terucapkan.
Seketika jalanan disekitar mereka berubah menjadi suasana dan nuansa yang horror, seakan akan
mereka bisa kehilangan nyawa dari sisi mana pun
Sergei: "Tetap bersatu, jangan biarkan mereka memecah kita!"
Pertarungan memuncak di tengah malam yang gelap. Arion, Yelena, Sergei, dan Filia bersatu untuk melawan
serangan Shifter yang lebih terorganisir dan kuat.
Shifter pemimpin, yang lebih besar dan lebih cerdas, memimpin serangan dengan kekuatan dan kecepatan
yang mengagumkan.
Shifter-shifter lainnya memiliki kekuatan khusus yang membuat pertempuran semakin rumit. Beberapa dari
mereka dapat berubah menjadi bayangan hitam, sulit untuk dihindari dan hampir tidak terlihat.
Yang lain memiliki kemampuan untuk menciptakan ilusi palsu, membingungkan tim Arion dan membuat
mereka saling menyerang.
Arion menggunakan keterampilan pedangnya dengan gemilang, memotong melalui bayangan dan ilusi dengan
kecepatan yang sulit diikuti oleh mata.
Yelena, dengan panah api yang mematikan, berusaha membatasi pergerakan Shifter-shifter yang lebih lincah.
Namun, Shifter pemimpin tetap menjadi ancaman terbesar. Kekuatan khususnya muncul dalam bentuk
manipulasi elemen.
Dengan gerakan tangan yang sederhana, dia bisa memanggil angin kencang yang menerbangkan mereka ke
udara, membuat pertempuran semakin sulit.
Sergei, dengan senjata beratnya, berdiri di garis depan melawan serangan Shifter-shifter yang semakin kuat.
Namun, ketika Shifter pemimpin memanggil elemen api, Sergei terpaksa bergeser ke belakang untuk
melindungi diri dari serangan yang mematikan.
Filia, dengan kemampuan dalam merawat yang dimilikinya, berusaha untuk merawat luka-luka kecil seiring
berjalannya pertempuran. Namun, Shifter pemimpin tahu cara menargetkan kelemahan mereka. Dia memicu
serangan gempa bumi yang mengacaukan keseimbangan tim Arion, membuat tugas Filia semakin sulit.
Meskipun pertempuran sengit, mereka tidak menyerah. Mereka beradaptasi dengan kekuatan khusus Shifter
dan bekerja sama untuk mengatasi tantangan. Setiap gerakan mereka diikuti dengan ketelitian dan koordinasi,
menciptakan harmoni dalam kekacauan pertempuran.
Yelena: "Aku mencoba membidik mereka, tapi mereka terlalu cepat!"
Arion: "Filia, bisakah kamu menyembuhkan luka-luka kecil ini?"
Filia: "Sedang berusaha, tapi mereka terlalu agresif!"
Pertarungan berkecamuk di sekeliling mereka, suara benturan senjata dan raungan Shifter memenuhi malam.
Shifter pemimpin melangkah maju dengan gerakan yang mulus, mata bersinar kebiruan, memantulkan
kekuatan gaib yang dimilikinya.
Shifter Pemimpin: (tanpa kata, memulai serangan gempa bumi)
Arion: "Semua, berhati-hati! Jaga keseimbangan!"
Sergai menahan guncangan gempa bumi dengan beratnya senjatanya, sementara Yelena meluncur di antara
serangan Shifter dengan kecepatan penuh.
Yelena: "Ayo, kita bisa melakukannya!"
Ilusi Shifter membingungkan tim Arion, menciptakan bayangan palsu di sekeliling mereka.
Filia: "Apa itu nyata atau tidak? Saya tidak bisa membedakan!"
Arion: "Fokus pada gerakan sebenarnya. Ilusi ini tidak bisa merugikan kita jika kita tidak terpancing."
Shifter pemimpin menciptakan badai petir di langit, menggertak dengan suara guntur yang menggema.
Sergei: "Ini semakin gila! Kita harus menemukan cara untuk melawan!"
Yelena: "Saran apa pun, Arion?"
Arion: "Tunggu saat yang tepat. Kami harus menyerang bersamaan!"
Mereka bergerak dengan koordinasi yang luar biasa, menghadapi serangan petir dan gempa bumi dengan
tekad yang tak tergoyahkan.
Filia: "Saya bisa merasakan kekuatan mereka mulai mereda!"
Arion: "Serang sekarang!"
Mereka meluncur ke arah Shifter-shifter, mengarahkan serangan mereka pada Shifter pemimpin.
Yelena: "Kita melakukannya! Tetap waspada, tapi kita melakukannya!"
Shifter pemimpin itu kemudian mengamuk, mengeluarkan suara suara tak enak dan keras
Memanggil para shifter yang tersisa ke arah dia.
Sergei: "Mereka semakin kuat, tapi kita tidak boleh menyerah!"
Yelena: "Senjata mereka aneh. Sulit memprediksi gerakan mereka!"
Arion: "Kita harus menyesuaikan diri. Jangan biarkan mereka mengendalikan pertempuran ini!"
Shifter pemimpin mendekati mereka dengan gerakan yang anggun, memancarkan aura kegelapan yang
mengancam.
Shifter Pemimpin: (tanpa kata, menggerakkan tangan untuk memicu serangan angin)
Filia: "Aku mencoba untuk menjaga keseimbangan kita, tapi serangan ini begitu kuat!"
Arion: "Kita harus mencari celah! Yelena, tembakkan panahmu ke sana!"
Yelena meluncur ke arah Shifter pemimpin, membidik titik lemah yang mungkin bisa dimanfaatkan.
Yelena: "Tahan, kalian!"
Panah-panah api melesat melalui udara, memaksa Shifter pemimpin untuk mundur sejenak. Namun, Shifter-
shifter lain terus menyerang dengan serangan yang lebih intens.
Sergei: "Mereka terlalu banyak! Kita harus membuat rencana baru!"
Arion: "Filia, bisakah kamu menciptakan perisai penyembuhan di sekitar kita?"
Filia: "Aku akan mencoba, tetapi butuh waktu!"
Pertempuran semakin kompleks, dengan Shifter-shifter menunjukkan kekuatan yang belum pernah dilihat
sebelumnya. Ilusi dan serangan elemen terus meramaikan medan pertempuran.
Yelena: "Apa rencana kita? Mereka semakin dekat!"
Arion: "Kita harus menemukan cara melawan kekuatan khusus mereka. Sergei, lihat apakah kamu bisa
mengidentifikasi pola serangan mereka!"
Sergei memperhatikan dengan seksama, mencoba memecahkan misteri di balik kekuatan Shifter-shifter.
Sergei: "Mereka punya pemimpin yang memberikan instruksi tak terucapkan. Kita harus menargetkan
pemimpinnya!"
Mereka menyusun rencana baru, bersiap untuk menyerang Shifter pemimpin yang tengah mengatur serangan
berikutnya.
Filia: "Perisai sudah siap! Bersiaplah, ini akan menjadi pertempuran yang sulit!"
Pertempuran mencapai puncaknya ketika mereka memasuki serangan berikutnya dengan tekad yang
membara. Serangan senjata dan kekuatan khusus bertabrakan, menciptakan gambaran pertempuran yang luar
biasa sengit di bawah langit malam yang penuh ketegangan.
Sergei: “Kita harus tahan, jangan biarkan mereka mengepung kita!”
Sergei, mantan militer dengan pengalaman bertahun-tahun, memimpin mereka dengan taktik yang cermat.
Setiap langkah mereka dihitung, setiap tembakan diarahkan dengan presisi. Namun, Shifter-shifter terus
datang, tak kenal lelah.
Filia: “Perisai ku sudah hampir rusak, Arion!”
Arion: “Tahan sebisa mungkin, Filia! Yelena, kita fokus pada pemimpin Shifter!”
Senjata-senjata mereka bersuara, menciptakan hentakan yang berpadu dengan derap langkah-langkah Shifter.
Pemimpin Shifter terlihat di tengah-tengah, mengarahkan pasukannya dengan licik.
Yelena: “Panah siap, Arion! Aku akan menembak pemimpin mereka!”
Panah api meluncur dari busur Yelena, menciptakan jalan di antara kekacauan. Namun, pemimpin Shifter
tangkas menghindar.
Sergei: “Mereka cerdik, tetap waspada!”
Pertempuran semakin sengit. Meskipun senjata-senjata sederhana, setiap tembakan dan gerakan memiliki
konsekuensi nyata. Reruntuhan di sekitar mereka menjadi tembok pertahanan alami, dan keterampilan taktis
Sergei menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan hidup tim.
Filia: “Aku mencoba mempertahankan perisai sebaik mungkin!”
Arion: “Teruslah, Filia! Sergei, ada celah di formasi mereka?”
Sergei: “Tunggu… ada. Serang dari sisi kanan kita, cepat!”
Tim Arion beralih, menyerang Shifter-shifter dari sisi yang tidak diharapkan. Strategi mereka bekerja, namun
pertempuran masih jauh dari selesai. Setiap anggota tim terus bergerak dengan hati-hati, menyatukan
kekuatan mereka untuk menghadapi keganasan Shifter dan pemimpin mereka.
Derap langkah, tembakan senjata, dan deru napas tercampur baur di tengah kekacauan, menciptakan lanskap
perang yang tanpa henti. Ini bukan pertarungan fantasi, tetapi pertempuran nyata yang penuh ketegangan dan
resiko. Tim Arion harus mempertahankan diri mereka tanpa bantuan kekuatan magis, mengandalkan
kemampuan fisik dan kecerdasan taktis untuk keluar dari pertempuran ini sebagai pemenang.
Pertempuran semakin panas, dan setiap langkah menjadi kunci untuk kelangsungan hidup mereka. Sergei
dengan cerdik memimpin serangan, Filia menjaga perisai penyembuhan dengan teliti, Yelena mengawasi dan
menembakkan panahnya dengan presisi, sementara Arion terus mengoordinasikan gerakan mereka.
Tapi, pemimpin Shifter terbukti menjadi lawan yang tangguh. Meskipun terdesak, dia mampu menghindari
serangan dengan kecepatan yang luar biasa. Hentakan kakinya menyulut debu dan reruntuhan, menciptakan
kabut yang membuat pandangan mereka semakin sulit.
Sergei: “Kita hampir punya dia, tetap fokus!”
Namun, dalam momen yang mendebarkan, pemimpin Shifter dengan sigap mengarahkan serangannya. Dengan
gerakan yang tiba-tiba, dia berhasil merobek perisai penyembuhan Filia, menyebabkan tim Arion terpukul
mundur.
Filia: “Perisai hampir hancur, Arion!”
Arion: “Sisa-sisa kekuatan, kita tidak boleh menyerah!”
Pemimpin Shifter melihat celah dan meluncurkan serangan balik. Tetapi, Yelena dengan cepat menembakkan
panahnya, mengenai tangannya dengan presisi.
Yelena: “Ini untuk perisai kita!”
Tangannya terputus, pemimpin Shifter menjerit kesakitan, namun dengan kecepatan yang mengejutkan, dia
menggunakan sisa kekuatannya untuk membuat lubang besar di tanah.
Sergei: “Dia mencoba melarikan diri, jangan biarkan dia pergi!”
Namun, sebelum mereka bisa merebut pemimpin Shifter, dia melompat ke dalam lubang tersebut dan
menghilang dengan cepat.
Filia: “Dia kabur!”
Arion: “Kita tidak bisa mengejar dia ke dalam sana.
Sergei: “Pemimpin Shifter itu berperilaku aneh, ada yang tidak wajar.”
Arion: “Ya, bagaimana mungkin dia bisa mengendalikan tubuh Shifter seolah-olah itu adalah ekstensi tubuhnya
sendiri?”
Filia: “Apakah mungkin dia memiliki kemampuan untuk mengendalikan Shifter sebagaimana kita
mengendalikan tubuh kita?
Yelena: “Sementara Shifter lainnya bergerak seolah-olah tanpa kesadaran diri.”
Sergei: “Ini benar-benar tidak masuk akal. Kita belum pernah melihat Shifter berperilaku seperti itu
sebelumnya.”
Arion: “Mungkin dia memiliki kemampuan khusus yang belum kita ketahui. Atau bisa jadi, dia bukan Shifter
biasa.”
Filia: “Meskipun demikian, dia masih bisa terluka, bukan? Yelena berhasil menembak tangannya.”
Yelena: “Benar, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan yang signifikan. Seperti dia tidak begitu
peduli.”
Sergei: “Apakah mungkin dia tahu kita akan menang sejak awal?”
Arion: “Ada kemungkinan dia memiliki mata-mata di kota ini. Informasi kita mungkin sudah bocor sebelum
pertempuran.”
Filia: “Jadi, kita mungkin telah diawasi sejak awal, dan pertempuran ini mungkin diatur untuk suatu alasan.”
Yelena: “Misteri apa lagi yang akan kita temui?”
Mereka duduk di antara reruntuhan kota, berbicara dengan keheranan dan kecurigaan. Meskipun pertempuran
telah usai, misteri di balik pemimpin Shifter dan konflik ini baru saja dimulai. Tugas mereka tidak hanya
melibatkan perlindungan fisik kota, tetapi juga pengungkapan intrik dan kepentingan yang tersembunyi di balik
konflik ini.
Dari balik bangunan yang runtuh, di kejauhan sekitar 3 km, seseorang sedang mengawasi mereka
dengan seksama kemudian menancapkan pedang yang ia bawa bersamanya, orang misterius itu
berkata
“Jadi mereka masih disini?
TO BE CONTINUED